1. Teori Fungsionalis (functionalist theory) berfokus pada cara-cara pendidikan melayani kebutuhan
masyarakat secara universal. Titik tekan lain dari fungsionalis adalah peran laten pendidikan seperti
transmisi nilai-nilai inti (core values) dan kontrol sosial. Nilai inti dalam pendidikan, siswa mematuhi
setiap aturan dan menghargai hak-hak individu. Dalam hal ini pendidikan memiliki nilai paling penting
untuk menembus kelas masyarakat atas dasar individualism-ideologi dan menganjurkan hak-hak
kebebasan, tindakan independen, dan hak-hak individu. Nilai sosial dalam pendidikan, siswa belajar
bermasyarakat dan menghargai serta menghormati siswa yang terbaik. Hal ini juga lebih ditekankan
bahwa sekolah harus berdasarkan pendekatan presetasi, dengan tujuan untuk membantu siswa
mengembangkan siswa dan harga diri.
Contohnya : Ada seorang siswa yang memenangkan olimpiade tingkat daerah. Lalu, siswa tersebut
lebih dibangga-banggakan oleh sekolahnya, bahkan salah satu guru dari sekolah tersebut pun lebih
berfokus siswa tersebut karena prestasinya. Ia lebih didik agar prestasinya lebih meningkat, dan bisa
ikut olimpiade tingkat nasional.
2. Teori konflik (conflik theory) melihat tujuan pendidikan sebagai upaya menjaga kesenjangan sosial
dan melestarikan kekuasaan orang-orang yang mendominasi masyarakat. Teori konflik melihat sistem
pendidikan sebagai mengekalkan status quo dengan cara menumpulkan kelas bawah menjadi pekerja
yang patuh. Oleh karena itu, teori konflik berpendapat bahwa sekolah mewujud semacam kelas yang
berbeda dan mengikuti alur garis etnis.
Contohnya : Dalam suatu sekolah, biasanya ada kelas holistik dan kelas reguler. Kelas holistik ini
berisikan anak-anak yang mempunyai IQ tinggi sedangkan kelas reguler ini berisikan anak-anak yang
mempunyai IQ sedang ataupun rendah. Dalam hal ini, untuk menjaga kesenjangan sosial agar tidak
terjadi konflik atau siswa yang ber-IQ sedang tidak merasa malu dengan siswa yang ber-IQ tinggi, maka
dari itu kelasnya dibuat terpisah.
3. Fokus teori interaksionis simbolis (symbolic interactionists) membatasi analisis pendidikan dengan
secara langsung mengamati apa yang terjadi di dalam kelas. Dalam hal ini, lebih berfokus pada
bagaimana ekspektasi guru mempengaruhi kinerja, persepsi, dan sikap siswa. Siswa memberitahukan
hasil tes kepada guru dan memintanya mengamati dan mencermati apakah peningkatan ini tidak terjadi.
Contohnya : Guru biasanya lebih memperhatikan siswanya yang lebih aktif. Karena menurutnya dari
proses belajar mengajar itulah terlihat siswa tersebut mengerti atau tidaknya dengan suatu materi yang
diajarkan, tanpa adanya suatu bentuk pengujian atau seperti ujian tiap bab.
4. Teori rekonstruksionis social didasarkan pada asumsi bahwa masyarakat dapat direkonstruksi melalui
control penuh atas pendidikan. Tujuannya adalah mengubah masyarakat agar sesuai dengan cita-cita
dasar partai politik atau pemerintah yang berkuasa atau untuk menciptakan utopia masyarakat melalui
pendidikan. Dalam kerangka rekonstruksionis social dan teori kritis, kurikulum berfokus pada
pengalaman siswa dan mengambil tindakan social terhadap masalah nyata.
Rekonstruksionisme adalah cabang progresivisme radikal. Rekonstruksionis melihat masyarakat
mengalami kerusakan yang serius. Para rekonstruksionis melihat pendidikan sebagai sarana dan tatanan
social baru yang perlu dikembangkan, dengan sekolah-sekolah sebagai agen utamanya untuk
membangun generasi ke depan yang lebih baik dan modern.
Contohnya : Dulu, berdasarkan kurikulum, cara proses belajar mengajar dalam kelas adalah guru selalu
menjelaskan materi kepada siswa sedangkan siswa hanya mencatat materi apa yang telah guru jelaskan.
Ini terlihat bahwa yang aktif dalam kelas adalah gurunya. Namun sekarang, kurikulum telah berubah.
Cara proses belajar mengajar dalam kelas pun berubah. Siswa diajarkan untuk lebih aktif dalam proses
pembelajaran sebagai penilaian afektif dari guru. Guru juga bisa melihat siswanya sudah mengerti
materi yang telah ia ajarkan atau belum, bukan hanya dilihat pada ujian akhir semester saja.

